JAKARTA,Naratara.com — Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin meminta seluruh gedung di Ibu Kota memperkuat sistem keselamatan kebakaran, termasuk dengan menyediakan alat deteksi dini dan alat pemadam api ringan (APAR).
Suhud menyampaikan hal tersebut setelah sejumlah peristiwa kebakaran terjadi dalam rentang waktu berdekatan di Jakarta. Ia menilai upaya pencegahan perlu diperkuat, tidak hanya mengandalkan penanganan ketika kebakaran sudah terjadi.
“Ini harus jadi perhatian,” kata Suhud, Rabu (23/9/2026).
Suhud menyoroti kebakaran yang terjadi di gedung milik Pemprov DKI yang disebut mengalami kejadian kebakaran sebanyak dua kali pada 7 dan 21 Agustus 2026.
Ia juga menyinggung kebakaran bangunan rendah di sekitar kawasan Pasar Kebayoran Lama yang terjadi pada malam hari.
Menurut Suhud, kondisi tersebut menjadi pengingat bagi pemerintah dan pengelola bangunan untuk memastikan seluruh sistem keselamatan berfungsi dan memenuhi ketentuan yang berlaku.
Ia menilai masih terdapat bangunan yang perlu meningkatkan kesiapan menghadapi potensi kebakaran, baik dari sisi sistem deteksi maupun ketersediaan peralatan pemadam awal.
“Padahal sudah ada aturan berupa UU Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung serta aturan turunannya,” ujar Suhud.
Karena itu, Suhud mendorong Pemprov DKI Jakarta, khususnya Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat), memperkuat pengawasan dan edukasi pencegahan kebakaran.
Menurutnya, upaya tersebut perlu menyasar pengelola gedung, baik milik pemerintah maupun swasta, serta masyarakat secara lebih luas.
“Ini harus jadi perhatian serius Pemprov DKI dalam mengedukasi pencegahan kebakaran di tengah masyarakat, pengelola gedung baik swasta maupun pemerintah,” tegasnya.
Suhud juga meminta aspek keselamatan menjadi perhatian sejak bangunan digunakan. Keberadaan alat deteksi dini, APAR, serta kesiapan penghuni dan pengelola dalam menghadapi keadaan darurat dinilai penting untuk mempercepat respons apabila muncul potensi kebakaran.
Selain kelengkapan sarana, ia menilai edukasi kepada penghuni dan pengelola gedung perlu dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, sistem pencegahan tidak akan berjalan optimal apabila pengguna bangunan tidak memahami prosedur keselamatan.
Suhud turut mengingatkan adanya potensi peningkatan risiko kebakaran saat kondisi cuaca kering. Ia mengaitkan hal tersebut dengan ancaman El Nino yang menurutnya dapat berlangsung hingga Januari 2027.
Pernyataan mengenai kondisi cuaca tersebut merupakan pandangan Suhud dalam mendorong peningkatan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
Data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta mencatat 1.216 kejadian kebakaran sepanjang 1 Januari hingga 31 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, Jakarta Barat mencatat 368 kejadian, Jakarta Timur 299, Jakarta Selatan 252, Jakarta Utara 163, dan Jakarta Pusat 134.
Sementara itu, data BPBD DKI Jakarta menunjukkan terdapat 457 kejadian kebakaran sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Pada Agustus saja tercatat sekitar 240 kejadian.
Dengan kondisi tersebut, penguatan sistem deteksi, ketersediaan APAR, pemeriksaan instalasi listrik, serta edukasi keselamatan menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko kebakaran di Jakarta.(red)



Komentar