Jakarta,Naratara.com – Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menegaskan pemerintah terbuka terhadap berbagai kritik dan masukan terkait kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Namun, ia mengingatkan agar kritik yang disampaikan tidak mengabaikan berbagai hasil yang telah dicapai melalui aktivitas diplomasi Presiden.
“Ruang untuk setiap masukan tentu kita terima, tetapi jangan sampai kita mengaburkan fakta tentang semua hasil yang telah kita capai,” kata Teddy dalam tayangan resmi Sekretariat Kabinet di Jakarta, Senin (1/6).
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai tanggapan atas sejumlah kritik yang sebelumnya disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI sekaligus pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, melalui media sosial pribadinya.
Dalam tayangan berdurasi lebih dari enam menit tersebut, Teddy menyampaikan sejumlah klarifikasi terkait berbagai isu yang menjadi perhatian publik mengenai lawatan luar negeri Presiden Prabowo.
Di awal penjelasannya, Teddy menyampaikan apresiasi atas masukan yang diberikan Dino Patti Djalal.
“Terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat dan pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri,” ujarnya.
Klarifikasi Soal Biaya dan Jumlah Delegasi
Teddy menjelaskan bahwa seluruh biaya perjalanan Presiden telah diatur sesuai ketentuan yang berlaku. Menurutnya, apabila terdapat biaya di luar anggaran yang telah ditetapkan negara, biaya tersebut ditanggung secara pribadi oleh Presiden Prabowo.
“Segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,” katanya.
Terkait jumlah rombongan yang mendampingi Presiden dalam kunjungan luar negeri, Teddy menyebut pemerintah telah melakukan efisiensi dibandingkan periode sebelumnya.
Menurut dia, jumlah delegasi yang ikut dalam lawatan Presiden saat ini berada pada kisaran 50 hingga 60 orang, lebih sedikit dibandingkan sejumlah kunjungan pada masa sebelumnya yang dapat melibatkan lebih dari 100 orang.
Jadwal Lawatan dan Diplomasi Personal
Teddy juga menjelaskan bahwa agenda kunjungan luar negeri Presiden terdiri atas kegiatan yang telah dijadwalkan secara rutin, seperti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN, G20, APEC, BRICS, maupun Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Selain itu, terdapat pula kunjungan yang bersifat situasional dan menyesuaikan perkembangan global, termasuk terkait konflik internasional maupun isu geopolitik yang memerlukan komunikasi langsung antar pemimpin negara.
Menurut Teddy, diplomasi yang dijalankan Presiden Prabowo juga menitikberatkan pada pembangunan hubungan personal dengan para pemimpin dunia sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia di tingkat internasional.
Ia menilai hubungan yang baik antarpemimpin negara perlu dibangun secara berkelanjutan sehingga dapat mendukung kerja sama dan komunikasi ketika menghadapi berbagai tantangan global.
“Penting untuk membangun hubungan yang baik dan komunikasi yang kuat antar pemimpin negara sebagai bagian dari diplomasi Indonesia,” ujarnya.
Pemerintah berharap berbagai upaya diplomasi yang dilakukan Presiden dapat memberikan manfaat bagi kepentingan nasional serta memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan global.(red)



Komentar