Megapolitan
Beranda » Blog » OC Kaligis Raih Lifetime Achievement in Law, Dedikasi Enam Dekade di Dunia Hukum

OC Kaligis Raih Lifetime Achievement in Law, Dedikasi Enam Dekade di Dunia Hukum

Pemimpin Redaksi Media Sudut Pandang Umi Sjarifah (kiri) menyerahkan penghargaan Lifetime Achievement in Law kepada advokat senior OC Kaligis dalam perayaan HUT ke-11 Media Sudut Pandang di Hotel Luminor Pecenongan, Jakarta Pusat, Kamis (3/9/2026).

JAKARTA,Naratara.com — Advokat senior Prof. Dr. Otto Cornelis Kaligis, S.H., M.H. atau OC Kaligis  menerima penghargaan Lifetime Achievement in Law dari Media Sudut Pandang dalam rangkaian HUT ke-11 media tersebut di Hotel Luminor Pecenongan, Jakarta Pusat, Kamis (3/9/2026).

Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi atas perjalanan panjang OC Kaligis di dunia hukum yang telah dimulainya sejak 1966. Hampir enam dekade kemudian, kiprahnya mencakup praktik advokat, pendidikan hukum, penulisan, hingga pembinaan generasi muda.

Bagi OC Kaligis, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan atas perjalanan profesional. Ia memaknainya sebagai pengingat untuk tetap memberikan kontribusi di bidang hukum.

“Lifetime Achievement in Law adalah pencapaian prestasi seumur hidup di dunia hukum, suatu gelar yang selalu mengingatkan saya untuk tidak henti-hentinya berjuang di ranah hukum, di mana pun dan kapan pun,” ujar OC Kaligis dalam sambutannya.

Pada kesempatan yang sama, OC Kaligis menyampaikan ucapan selamat kepada Pemimpin Redaksi Sudut Pandang Umi Sjarifah, jajaran Dewan Redaksi, serta seluruh keluarga besar Sudut Pandang yang memasuki usia ke-11.

11 Partai Final Piala Panglima TNI 2026 Digelar di Bandung, Perebutan Gelar Makin Sengit

Ia berharap media tersebut terus mengambil bagian dalam menyuarakan persoalan hukum dan memberikan kontribusi bagi perkembangan hukum di Indonesia yang berlandaskan Pancasila.

Meniti Karier Sejak 1966

Perjalanan OC Kaligis di bidang hukum dimulai setelah menyelesaikan pendidikan sarjana hukum pada 1966. Pada awal kariernya, ia bekerja sebagai asisten notaris F.A. Tumbuan dan mulai menangani serta mempelajari berbagai persoalan hukum, termasuk perbankan, penanaman modal asing, dan pertanahan.

Dalam mendalami hukum perdata, ia juga memperoleh bimbingan dari F.B.G. Tumbuan.

Pengembangan pendidikan kemudian membawanya ke Jerman Barat pada 1971-1975. Di Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule Aachen, ia menempuh bidang filsafat.

Lanud Halim Kirim APD, Masker dan Tabung Oksigen untuk Penanganan Karhutla di Kalimantan

Setelah kembali ke Indonesia, OC Kaligis kembali menekuni profesi hukum. Pada 1976, ia mendirikan kantor konsultan hukum bersama Rudhy Lontoh, almarhum Rusdi Nurima, dan Nauli Basa.

Setahun berselang, ia mendirikan kantor pengacara sendiri setelah memperoleh izin dari Departemen Kehakiman dan Mahkamah Agung.

Dari perjalanan tersebut, kiprahnya kemudian berkembang tidak hanya sebagai advokat, tetapi juga akademisi, penulis, dan pembimbing bagi sejumlah praktisi hukum muda.

Membentuk Generasi Advokat

Dalam perjalanan profesinya, OC Kaligis juga memberikan perhatian pada pembinaan calon advokat. Ia menyebut Hotman Paris Hutapea sebagai asisten pertamanya pada 1978.

Maulid Nabi di Pejagalan Meriah, Tradisi Berebut Telur Jadi Momen yang Ditunggu Warga

Sejumlah nama lain yang pernah menjadi asistennya kemudian berkiprah di berbagai bidang hukum, di antaranya Amir Syamsudin, Hamdan Zoelva, Hikmahanto Juwana, dan Junivert Girsang.

OC Kaligis menyebut sekitar 40 mantan asistennya telah memperoleh gelar doktor hukum. Empat di antaranya bahkan mencapai jenjang profesor.

Ia juga mengatakan pernah mendukung pendidikan sejumlah asistennya untuk melanjutkan studi LL.M. di berbagai perguruan tinggi luar negeri, termasuk Harvard University, University of California Berkeley, New York University, serta sejumlah universitas di Belanda dan Australia.

Selain membimbing calon praktisi hukum, ia juga aktif dalam kegiatan akademik. OC Kaligis pernah menjadi penguji eksternal program doktor di sejumlah fakultas hukum, antara lain Universitas Diponegoro, Universitas Airlangga, Universitas Trisakti, dan Universitas Hasanuddin.

Ia juga pernah mengajar di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri di Lembang, serta Pusdiklat Kejaksaan Agung.

Pengalaman Menangani Perkara

Pengalaman OC Kaligis sebagai praktisi hukum juga mencakup sejumlah perkara di luar negeri. Ia menyebut pernah menangani perkara di Doha, Qatar, Guernsey, Sydney dan Melbourne di Australia, Amsterdam di Belanda, serta beberapa negara Asia lainnya.

Di Indonesia, ia pernah menjadi penasihat hukum mantan Presiden Soeharto dan keluarganya, mantan Presiden B.J. Habibie, serta salah satu penasihat hukum Presiden Prabowo dalam perkara di Mahkamah Konstitusi.

Sepanjang kariernya, ia juga menangani perkara dengan klien dari berbagai latar belakang. Sejumlah perkara yang pernah ditanganinya mendapat perhatian publik.

Dorong Akses Bantuan Hukum

Perhatian terhadap akses masyarakat terhadap keadilan juga menjadi bagian dari kiprah OC Kaligis. Melalui Indonesia Innocent Project, ia menyebut memberikan bantuan hukum secara pro bono kepada masyarakat yang menjadi korban kriminalisasi.

Lembaga tersebut melibatkan sejumlah penasihat hukum muda, di antaranya Alexa Kaligis, Debora Praise Karinda, dan Ayu Wahyuning Sari.

Menurut OC Kaligis, bantuan hukum merupakan bagian dari tanggung jawab profesi, terutama dalam membantu masyarakat yang membutuhkan pendampingan hukum.

Produktif Menulis Buku Hukum

Di luar ruang sidang dan aktivitas akademik, OC Kaligis juga dikenal produktif menulis. Ia menyebut telah menerbitkan 128 buku hukum berbahasa Indonesia dan Inggris yang telah memiliki ISBN.

Dalam acara HUT ke-11 Media Sudut Pandang, sejumlah buku tersebut diserahkan secara simbolis kepada Umi Sjarifah untuk menambah koleksi perpustakaan Sudut Pandang.

Salah satu buku yang diserahkan adalah Miscarriage of Justice dalam Sistem Peradilan Pidana: Perlunya Pendekatan Keadilan Restoratif, yang merupakan pidato ilmiahnya ketika dikukuhkan sebagai guru besar pada 2008.

Ia juga menyerahkan Trans Boundaries Financial Case in International Forum yang membahas perkara Hutomo Mandala Putra melawan BNP Paribas dan Pemerintah Republik Indonesia.

Buku lainnya, Corruption as a Transnational Organized Crime, memuat tulisan OC Kaligis ketika menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa di Wina, Austria.

Selain itu, terdapat buku Barack Obama: A Gift of Hope yang ditulis dan dipersembahkan kepada mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

“Semoga buku-buku ini bermanfaat bagi Perpustakaan Sudut Pandang,” kata OC Kaligis.

Enam Dekade dan Masih Berkontribusi

Memasuki perjalanan panjangnya di dunia hukum, OC Kaligis menilai penghargaan Lifetime Achievement in Law bukan menjadi titik akhir pengabdian.

Ia justru melihat penghargaan tersebut sebagai dorongan untuk terus berkontribusi dalam bidang hukum dan membantu membuka akses keadilan bagi masyarakat.

“Terima kasih atas penghargaan yang diberikan Sudut Pandang, semoga terus berkembang serta mengambil bagian dalam menyuarakan persoalan hukum dan kepentingan masyarakat. Salam Keadilan,” ujar Kaligis.(red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
×