Opini
Beranda » Blog » Sumpah Pemuda dan Budaya Sunda: Merawat Jati Diri, Memperkuat Persatuan Bangsa

Sumpah Pemuda dan Budaya Sunda: Merawat Jati Diri, Memperkuat Persatuan Bangsa

Ketua Umum MASDA Jawa Barat, Abah Anton Charliyan (tengah), berfoto bersama Dadang Rachmat, S.H. (kanan), Ketua MASDA Provinsi DKI Jakarta, serta sejumlah tokoh dan pengurus dalam kegiatan pelestarian budaya Sunda. (Foto:Istimewa)

Oleh: Dadang Rachmat, S.H.
Ketua Majelis Adat Sunda (MASDA) Provinsi DKI Jakarta

Peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober bukan sekadar momentum untuk mengenang ikrar bersejarah para pemuda pada 1928. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi pengingat bahwa keberagaman budaya merupakan salah satu kekuatan bangsa Indonesia. Dalam semangat persatuan tersebut, masyarakat Sunda memiliki tanggung jawab untuk merawat warisan leluhur sekaligus menjadikannya bagian dari kehidupan kebangsaan.

Budaya bukan hanya peninggalan masa lalu yang ditampilkan dalam upacara atau pertunjukan. Budaya hidup melalui bahasa yang digunakan, nilai yang diwariskan, sikap dalam pergaulan, serta cara masyarakat membangun hubungan dengan sesama.

Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026 - Naratara.com

Dalam tradisi Sunda, nilai silih asah, silih asih, silih asuh mengajarkan pentingnya saling mencerdaskan, menyayangi, dan membimbing. Sementara itu, ungkapan someah hade ka semah mencerminkan keramahan dalam menerima dan menghormati orang lain. Nilai-nilai tersebut tetap relevan untuk membangun kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat yang beragam.

Karena itu, merawat budaya Sunda bukan semata-mata mempertahankan tradisi. Di dalamnya terdapat nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sesama yang dapat memperkuat kehidupan berbangsa. Identitas kesukuan tidak harus dipertentangkan dengan identitas nasional. Keduanya dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan.

Menhan Sjafrie Tinjau Industri Pertahanan, Kunjungi PTDI, PT LEN, dan PT Pindad

Budaya Sunda Melampaui Batas Wilayah

Keberadaan komunitas masyarakat Sunda di berbagai daerah, termasuk di luar negeri, menunjukkan bahwa ikatan budaya tidak selalu dibatasi oleh wilayah tempat tinggal. Masyarakat Sunda dapat menetap di mana saja, tetapi hubungan dengan bahasa, adat, dan nilai-nilai leluhur tetap dapat dipelihara.

Dalam konteks tersebut, Majelis Adat Sunda (MASDA) dapat menjadi salah satu ruang untuk mempererat persaudaraan, merawat tradisi, dan meneruskan nilai budaya kepada generasi berikutnya. Berbagai unsur masyarakat adat dan budaya, termasuk tokoh-tokoh yang aktif dalam pelestarian budaya Sunda, memiliki peran dalam mendorong upaya tersebut.

Namun, pelestarian budaya tidak cukup hanya mengandalkan organisasi atau kegiatan seremonial. Keluarga, lembaga pendidikan, komunitas, dan generasi muda perlu terlibat secara aktif.

Bahasa Sunda, misalnya, dapat terus digunakan dalam keluarga dan pergaulan tanpa menghalangi generasi muda untuk menguasai bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Kemampuan berbahasa dan keterbukaan terhadap dunia luar justru dapat menjadi modal untuk memperkenalkan budaya Sunda kepada masyarakat yang lebih luas.

Demikian pula dengan kesenian, cerita rakyat, tradisi, dan pengetahuan lokal. Kekayaan budaya tersebut perlu diperkenalkan melalui cara yang sesuai dengan perkembangan zaman. Teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan, mempelajari, dan menyebarluaskan budaya Sunda agar lebih mudah diakses oleh generasi muda.

Cuaca Jakarta Hari Ini 28 Oktober 2026, Warga Diimbau Waspadai Hujan

Hal yang tidak kalah penting adalah menjadikan budaya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya sesuatu yang ditampilkan pada acara tertentu. Kesantunan, kepedulian, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama perlu tercermin dalam perilaku nyata.

Semangat Sumpah Pemuda dan Tanggung Jawab Generasi Muda

Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan latar belakang bukanlah penghalang untuk membangun cita-cita bersama. Pada 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang menyatakan tekad untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, yaitu Indonesia.

Pesan tersebut tetap relevan bagi masyarakat Sunda saat ini. Mencintai budaya sendiri tidak berarti merasa lebih tinggi daripada pemilik budaya lain. Sebaliknya, pemahaman terhadap identitas sendiri seharusnya menumbuhkan penghormatan terhadap keberagaman.

Generasi muda Sunda perlu diberi ruang untuk mengenal akar budayanya sekaligus mengembangkan kreativitas. Budaya dapat diperkenalkan melalui musik, film, sastra, konten digital, dan berbagai kegiatan komunitas. Dengan cara itu, budaya tidak berhenti sebagai warisan, tetapi terus berkembang tanpa kehilangan nilai dasarnya.

Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan lintas generasi. Orang tua dan tokoh adat dapat mewariskan pengetahuan serta nilai budaya, sedangkan generasi muda dapat menghadirkan cara-cara baru untuk mengenalkan dan mengembangkannya. Kolaborasi ini penting agar pelestarian budaya tidak terputus oleh perubahan zaman.

BNN Perkuat Kerja Sama Regional Hadapi Ancaman Narkotika Sintetis

Sebagai Ketua Majelis Adat Sunda (MASDA) Provinsi DKI Jakarta, saya memandang bahwa upaya merawat budaya Sunda perlu dibangun melalui kebersamaan dan keterlibatan berbagai kalangan. Masyarakat Sunda yang tinggal di Jakarta dan daerah lainnya memiliki pengalaman serta latar belakang yang beragam. Perbedaan tersebut dapat menjadi kekuatan untuk memperluas persaudaraan, bukan alasan untuk menjauh satu sama lain.

Pada akhirnya, merawat budaya Sunda merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga kekayaan Indonesia. Semangat Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa kecintaan terhadap budaya daerah harus berjalan seiring dengan komitmen terhadap persatuan nasional.

Kita tidak perlu kehilangan jati diri untuk menjadi bagian dari Indonesia. Justru dengan mengenali dan merawat akar budaya, kita dapat memberikan kontribusi yang lebih kuat bagi bangsa.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.

Urang Sunda, jaga budayana, kuatkeun duduluranana, tur babarengan ngawangun Indonesia.

Penulis adalah Ketua Majelis Adat Sunda (MASDA) Provinsi DKI Jakarta dan Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
×