BANDUNG, NARATARA.COM — PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo memperkuat kemitraan dengan petani sawit rakyat untuk meningkatkan daya saing perusahaan, menjaga kesinambungan pasokan bahan baku, serta mendorong kesejahteraan petani di tengah dinamika pasar global.
Strategi tersebut menjadi salah satu fokus dalam Gathering Petani Mitra 2026 yang diselenggarakan PTPN IV Regional III di Bandung, Jawa Barat, pada pertengahan Oktober 2026. Mengusung tema Break the Limit, Make the Leap, kegiatan ini mempertemukan jajaran manajemen perusahaan dengan perwakilan petani plasma yang menjadi bagian dari rantai pasok industri sawit.
Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo Arya Sandhiyudha mengatakan, kemitraan dengan petani bukan sekadar kewajiban perusahaan, melainkan strategi untuk memperkuat industri sawit nasional melalui kolaborasi.
Menurut Arya, struktur perkebunan sawit Indonesia menunjukkan besarnya potensi petani rakyat dalam mendukung daya saing perusahaan negara.
“Di peta sawit nasional, luasan PTPN berada di kisaran 5 persen. Kita tidak akan bisa bersaing dengan 53 persen pihak swasta jika berdiri sendiri. Kekuatan baru akan tercipta jika kita menggandeng dan mengintegrasikan 42 persen kekuatan petani sawit rakyat,” kata Arya.
Ia menjelaskan, penguatan industri tidak cukup hanya mengandalkan perluasan dan peningkatan produktivitas kebun inti. Integrasi kebun rakyat melalui kemitraan dinilai dapat memperkuat pasokan bahan baku, meningkatkan efisiensi, serta memperluas manfaat ekonomi bagi petani.
Strategi ini sejalan dengan arah pengembangan bisnis Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa, yang menempatkan penguatan kemitraan dan percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sebagai bagian dari prioritas perusahaan.
Melalui pendampingan teknis, peningkatan produktivitas, dan penyerapan tandan buah segar (TBS), PalmCo berupaya membangun hubungan usaha yang saling menguntungkan sekaligus memperkuat fondasi pasokan bagi industri hilir kelapa sawit.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, perusahaan juga menggulirkan program PSR Award pada 2026 untuk memberikan apresiasi sekaligus mengevaluasi capaian peremajaan sawit rakyat bersama petani mitra.
“Harapannya, pasca-PSR Award, terjadi akselerasi program peremajaan yang lebih masif ke depannya,” ujar Arya.
Kemitraan Regional III Kelola Lebih dari 56.000 Hektare
Pelaksana Tugas Region Head PTPN IV Regional III Sori P. Ritonga mengatakan, kemitraan dengan petani telah menjadi bagian dari perjalanan perusahaan di Riau sejak masih beroperasi sebagai PTPN V.
Kemitraan yang dirintis sejak era 1980-an itu berkembang melalui pembangunan kebun plasma, pembinaan kelembagaan petani, hingga pendampingan peremajaan tanaman yang kini memasuki siklus kedua.
Saat ini, PTPN IV Regional III bermitra dengan puluhan ribu petani yang mengelola kebun masyarakat seluas lebih dari 56.000 hektare. Sementara itu, luas kebun inti perusahaan mencapai sekitar 71.000 hektare.
Berdasarkan angka tersebut, luas kebun masyarakat yang dikelola melalui kemitraan setara hampir 80 persen dari luas kebun inti perusahaan. Angka ini menunjukkan besarnya peran kebun mitra dalam mendukung kegiatan usaha Regional III.
Sori mengatakan, kemitraan tidak hanya membantu menjaga ketersediaan bahan baku, tetapi juga berkontribusi terhadap perputaran ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Komitmen itu dijalankan melalui penerapan sistem manajemen tunggal atau single management, yang mengintegrasikan pengelolaan kebun, praktik budidaya, pendampingan kelembagaan, dan pemasaran hasil panen.
Melalui pola tersebut, petani diharapkan memperoleh akses terhadap pendampingan teknis dan pasar yang lebih terjamin. Di sisi lain, perusahaan dapat menjaga kesinambungan pasokan TBS dengan kualitas yang lebih terukur.
Produktivitas Kebun Mitra Capai 21,3 Ton per Hektare
Salah satu hasil pendampingan terlihat pada KUD Tunas Muda, koperasi mitra perusahaan yang telah menjalani program PSR.
Menurut Sori, produktivitas kebun koperasi tersebut mencapai 21,3 ton TBS per hektare pada fase tanaman menghasilkan tahun kedua (TM 2). Angka itu disebut sekitar 43 persen lebih tinggi dibandingkan standar produktivitas Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) untuk fase pertumbuhan yang sama.
Capaian tersebut menunjukkan potensi peningkatan produktivitas kebun rakyat melalui penggunaan bibit unggul, tata kelola yang baik, dan pendampingan berkelanjutan.
Hingga Oktober 2026, petani mitra Regional III telah memperoleh rekomendasi teknis peremajaan untuk sekitar 3.100 hektare lahan, atau hampir 70 persen dari target tahunan seluas 4.500 hektare.
Perusahaan selanjutnya memproyeksikan pengelolaan lahan plasma melalui program peremajaan mencapai 22.000 hektare secara bertahap pada periode 2027–2028.
Percepatan PSR diharapkan membantu meremajakan kebun yang telah memasuki usia tidak produktif sekaligus meningkatkan potensi hasil panen petani.
Kontribusi TBS Mitra Ditargetkan 85 Persen pada 2030
Di tengah fluktuasi harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar global, kepastian penyerapan hasil panen dan harga pembelian TBS menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kemitraan.
Sori mengatakan, Regional III berupaya menjaga harga beli TBS petani mitra agar tetap kompetitif sehingga petani memiliki ruang keuntungan yang memadai.
“Kami berupaya menjaga harga beli di tingkat petani tetap stabil dan bersaing. Kepercayaan pasar ini terlihat dari volume antrean pasokan yang masuk ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) kami secara harian,” kata Sori.
Menurut dia, kontribusi pasokan TBS dari kebun mitra terhadap total pasokan perusahaan meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2019, kontribusinya berada di kisaran 9 persen, sedangkan saat ini telah mencapai sekitar 34 persen.
Perusahaan memproyeksikan kontribusi tersebut meningkat menjadi 45 persen dalam jangka menengah, sebelum mencapai target 85 persen pada 2030 sesuai arah Rencana Jangka Panjang (RJP) perusahaan.
Peningkatan kontribusi kebun mitra tersebut mencerminkan upaya perusahaan mengembangkan model bisnis yang semakin mengandalkan kolaborasi dengan petani rakyat, tanpa mengesampingkan produktivitas kebun inti.
Untuk 2026, Regional III memproyeksikan produktivitas kebun mencapai 24,5 ton per hektare. Pembelian TBS dari kemitraan PSR juga ditargetkan menembus 1 juta ton, meningkat dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya yang berada di kisaran 900.000 ton.
Dari sisi kinerja keuangan, perusahaan memproyeksikan laba sebesar Rp3,1 triliun pada tahun ini.
“Tahun ini kami memproyeksikan pencapaian produktivitas di angka 24,5 ton per hektare. Dari sisi kemitraan, pembelian TBS dari program PSR ditargetkan mencapai satu juta ton, melampaui rata-rata tahun sebelumnya yang berada di kisaran 900 ribu ton. Hal ini diharapkan bermuara pada capaian estimasi laba sebesar Rp3,1 triliun,” ujar Sori.
Ia menegaskan, peningkatan kinerja perusahaan perlu berjalan seiring dengan kemajuan petani mitra. Keberlanjutan industri sawit tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produksi, tetapi juga oleh kekuatan ekonomi petani yang menjadi bagian dari rantai pasok.
Melalui penguatan kemitraan, percepatan peremajaan kebun, dan kepastian penyerapan hasil panen, PTPN IV PalmCo berupaya membangun ekosistem perkebunan yang lebih terintegrasi, produktif, dan memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan maupun masyarakat.(red)



Komentar