Oleh: Victor
Ada tempat yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan, meskipun waktu membawa kita pergi jauh. Bagi saya dan banyak alumni lainnya, SMP PGRI 6 Bekut bukan sekadar sekolah, melainkan bagian penting dari perjalanan hidup. Di tempat inilah kami menimba ilmu, membangun persahabatan, dan mulai merajut cita-cita.
Pada era 1980-an hingga awal 2000-an, SMP PGRI 6 Bekut di Desa Bekut, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, pernah menjadi salah satu sekolah yang dikenal masyarakat. Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Sekolah tersebut sempat berhenti beroperasi selama kurang lebih sembilan tahun.
Bagi kami yang pernah belajar di sana, keadaan itu menimbulkan kesedihan sekaligus pertanyaan: apakah sekolah yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat ini akan benar-benar tinggal kenangan?
Pertanyaan itulah yang kemudian mendorong lahirnya keinginan untuk melakukan sesuatu.
Berawal dari Kepedulian pada 2013
Pada 2013, saya mengetahui bahwa SMP PGRI Bekut telah lama tidak beroperasi. Saya kemudian berusaha menghubungi Urai Sumadi, mantan guru Bahasa Inggris yang dikenal dekat dengan para muridnya. Nomor telepon beliau saya peroleh melalui seorang alumni.
Kami berkomunikasi melalui telepon untuk membicarakan kondisi sekolah dan kemungkinan menghidupkannya kembali. Kesempatan bertemu langsung datang ketika Urai Sumadi kembali dari perjalanan dinas ke Bali dan tiba di Jakarta. Saya menjemput beliau di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Komunikasi tersebut menjadi salah satu langkah awal yang kemudian berkembang menjadi gerakan bersama para alumni.
Pada Februari 2014, pertemuan pertama alumni diselenggarakan di Gedung Bukit Zaitun, Desa Bekut, dengan difasilitasi oleh Deriyu Gelut. Bui Kiong juga hadir dalam pertemuan tersebut. Setelah itu, para alumni mengadakan dua pertemuan lanjutan untuk membahas upaya membuka kembali sekolah.
Perjuangan ini bukan perkara mudah. Bangunan sekolah telah lama terbengkalai, sementara kebutuhan biaya dan berbagai persiapan harus dipikirkan. Namun, para alumni memilih untuk tidak sekadar mengenang masa lalu. Mereka berusaha mencari jalan agar sekolah tersebut kembali memberikan kesempatan pendidikan kepada generasi berikutnya.
Persaudaraan yang Melampaui Jarak
Salah satu hal yang membanggakan dari perjuangan ini adalah keterlibatan alumni yang kini tersebar di berbagai daerah dan negara.
Ada alumni yang menetap di kawasan Jabodetabek, Pulau Batam, Papua, dan berbagai wilayah lain di Indonesia. Sejumlah alumni juga tinggal di Hong Kong, Taiwan,Malaysia, Amerika Serikat, serta negara-negara lainnya.
Meskipun terpisah jarak dan memiliki kesibukan masing-masing, kepedulian terhadap almamater tetap terjaga. Dukungan diberikan sesuai kemampuan, baik melalui bantuan materi, gagasan, tenaga, maupun upaya mengajak alumni lainnya untuk berpartisipasi.
Bagi saya, kebangkitan sekolah ini bukan hasil kerja satu atau dua orang. Urai Sumadi, Bui Kiong, Deriyu Gelut, dan banyak alumni lainnya merupakan bagian dari perjalanan tersebut. Masih ada pihak-pihak yang turut membantu, meskipun tidak semuanya dapat disebutkan satu per satu.
Setiap orang memiliki keadaan dan kemampuan berbeda. Karena itu, perjuangan bersama tidak semata-mata diukur dari besarnya sumbangan, tetapi juga dari kepedulian dan kesediaan untuk mengambil bagian.
Jarak boleh memisahkan tempat tinggal, tetapi tidak harus memutus ikatan dengan almamater.
Kisah ini bukan hanya tentang sebuah sekolah di desa yang kembali dibuka. Ini juga tentang persaudaraan, kepedulian, dan semangat gotong royong yang tetap terpelihara meskipun para alumninya telah tersebar ke berbagai penjuru.
Kembali Beroperasi pada 2019
Setelah melalui berbagai upaya bersama, sekolah akhirnya kembali beroperasi pada 2019 dengan nama SMP PGRI 1 Tebas, menggantikan nama sebelumnya, SMP PGRI 6 Bekut.
Kebangkitan ini didukung oleh para alumni, kalangan pengusaha, Permasis (Perkumpulan Masyarakat Singkawang dan Sekitarnya), serta berbagai pihak yang peduli terhadap pendidikan.
Bui Kiong, yang merupakan alumni sekaligus anggota DPRD Kabupaten Sambas, turut memberikan dukungan melalui Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPRD untuk bantuan ruang kelas. Selain itu, ia juga memberikan kontribusi dari uang pribadinya.
Dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya yang lebih luas. Keberhasilan menghidupkan kembali sekolah tidak dapat dilepaskan dari semangat gotong royong para alumni dan bantuan berbagai pihak.
Hal lain yang patut diapresiasi, sejak kembali beroperasi pada 2019 hingga sekarang, siswa SMP PGRI 1 Tebas tetap tidak dikenakan biaya sekolah. Sementara itu, kebutuhan seragam dan pakaian olahraga siswa terus dibantu melalui uang patungan para alumni.
Bagi saya, kepedulian ini memiliki arti besar. Para alumni tidak hanya membantu membuka kembali sekolah, tetapi juga berupaya meringankan beban keluarga siswa agar anak-anak tetap memiliki kesempatan memperoleh pendidikan.
Bangunan yang kembali digunakan memang menjadi tanda kebangkitan. Namun, makna yang lebih besar terletak pada terbukanya kembali kesempatan bagi generasi muda untuk belajar dan mempersiapkan masa depan.
Revitalisasi 2026, Harapan Baru
Perjuangan menjaga sekolah tidak berhenti setelah kegiatan belajar mengajar kembali berjalan. Bangunan dan fasilitas pendidikan tetap membutuhkan perhatian agar siswa dapat belajar dengan lebih nyaman.
Pada 2026, SMP PGRI 1 Tebas memperoleh bantuan program revitalisasi satuan pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Dukungan ini menjadi harapan baru setelah sekolah menantikan perbaikan fasilitas selama bertahun-tahun.
Bantuan tersebut patut disyukuri. Namun, revitalisasi bukanlah akhir perjuangan. Perbaikan bangunan perlu diikuti dengan peningkatan kualitas pembelajaran, perhatian terhadap guru, dan dukungan berkelanjutan bagi siswa.
Sekolah yang baik bukan hanya memiliki gedung yang layak, tetapi juga mampu memberikan pendidikan bermutu, membentuk karakter, dan membuka jalan bagi generasi muda untuk meraih cita-cita.
Karena itu, momentum revitalisasi ini perlu menjadi kesempatan untuk memperkuat komitmen semua pihak dalam menjaga keberlangsungan SMP PGRI 1 Tebas.
Menjaga Warisan, Mempersiapkan Masa Depan
Saya menulis kisah ini bukan untuk mengklaim bahwa kebangkitan sekolah merupakan hasil kerja pribadi. Saya hanyalah salah satu alumni yang memiliki kepedulian terhadap tempat yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan hidup kami.
Kepada Urai Sumadi, Bui Kiong, Deriyu Gelut, seluruh alumni, para guru, kalangan pengusaha, Permasis, dan semua pihak yang telah membantu, saya menyampaikan penghargaan serta terima kasih.
Penghargaan ini bukan untuk menentukan siapa yang paling berjasa. Sebaliknya, ini merupakan pengakuan bahwa setiap orang yang ikut mengambil bagian memiliki arti dalam perjalanan panjang menghidupkan kembali sekolah tersebut.
Saya berharap semangat kebersamaan ini terus terpelihara. Alumni yang berada di Desa Bekut, Jabodetabek, Pulau Batam, Papua, berbagai daerah di Indonesia, hingga luar negeri tetap dapat mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.
Kami tidak ingin SMP PGRI Bekut hanya menjadi cerita masa lalu yang dikenang saat reuni. Kami ingin sekolah ini terus berkembang dan memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.
Pada akhirnya, sekolah bukan sekadar bangunan dan ruang kelas. Sekolah adalah tempat harapan ditumbuhkan, pengetahuan dibangun, dan masa depan dipersiapkan.
Sebab, yang kami perjuangkan bukan sekadar membuka kembali sebuah sekolah, melainkan menjaga agar kesempatan belajar dan harapan anak-anak Desa Bekut tetap menyala.
Penulis merupakan pengusaha dan advokat yang baru saja menyelesaikan pendidikan Magister Hukum di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (UNSURYA), serta alumni SMP PGRI 6 Bekut.



Komentar